Pamer Barang 'Buluk' Malah Viral? Mengenal 'Underconsumption Core': Tren Gen Z yang Muak Sama Budaya Flexing dan Pamer Belanja

Hypewe.com – Coba scroll TikTok lo. Dulu isinya: "Guys, temenin gue unboxing paket 5 juta!" atau "Koleksi parfum gue ada 50 botol!" Bikin iri? Iya. Bikin dompet nangis? Pasti.

Tapi di penghujung 2025 ini, algoritma berubah total. Muncul tren Underconsumption Core (Inti Kurang Konsumsi). Orang-orang kini justru bangga memamerkan sepatu yang udah lecet karena sering dipake, bedak yang udah bolong tengahnya (hit pan), dan kamar yang isinya cuma barang-barang penting. Kenapa tiba-tiba "hidup pas-pasan" dan "memakai barang sampai rusak" jadi estetik baru yang keren?

1. Apa Itu "Underconsumption Core"?

Ini adalah lawan dari Overconsumption (Konsumsi Berlebih). Kalau dulu influencer nyuruh lo beli barang baru tiap minggu, Underconsumption Core ngajak lo buat: "Pake apa yang lo punya."

Estetikanya bukan minimalis yang "kosong melompong" kayak rumah sakit ya. Estetikanya adalah "Lived In" (Terasa Dihuni).

  • Gelas yang dipake gelas bekas selai, bukan gelas estetik mahal.

  • Handuk yang warnanya gak matching sama kamar mandi.

  • Baju kaos yang udah agak belel tapi nyaman banget. Intinya: Normalisasi Kehidupan yang Wajar. Gak perlu semua barang di rumah lo kelihatan kayak showroom IKEA.

2. Muak dengan "Micro-Trends" (Shein & TikTok Shop)

Gen Z mulai sadar kalau mereka dijebak siklus tren yang cepet banget. Bulan ini ngetren baju Coquette, bulan depan Gorpcore, bulan depannya lagi Office Siren. Kalau diikutin terus, kamar penuh sampah tekstil dan duit abis.

Underconsumption Core adalah bentuk De-influencing. Kita ngerasa cool kalau bisa bilang: "Gue gak beli baju baru selama 6 bulan dan gue tetep idup kok." Ada rasa bangga karena gak tergoda sama racun TikTok Shop.

3. Realita Ekonomi (Inflasi Gak Santai)

Mari jujur, alasan utamanya pasti Duit. Harga barang naik, gaji segitu-gitu aja, dan biaya hidup makin gila.

Membeli barang bekas (Thrifting) atau memperbaiki barang rusak (Mending) bukan lagi soal gaya, tapi kebutuhan bertahan hidup. Tren ini memvalidasi perasaan kita yang mungkin malu karena gak bisa beli iPhone terbaru. Underconsumption Core bilang: "Hei, HP lo yang layarnya retak dikit itu masih bisa dipake kok. Gak usah gengsi."

4. Dampak Positif: Mental Lebih Tenang

Sadar gak sih, punya terlalu banyak barang itu bikin stres (Clutter Anxiety)? Harus diberesin, harus dirawat, bingung milihnya.

Dengan menerapkan gaya hidup ini, otak lo jadi lebih lega. Lo gak perlu scrolling e-commerce tiap malem nyari barang diskon yang sebenernya gak lo butuhin. Lo belajar menghargai barang yang lo punya sampai tetes terakhir. Liat botol sampo yang dibalik dan dikocok-kocok air biar isinya keluar semua? Itu Underconsumption Core sejati, Bestie!

(Kesimpulan) Menjadi keren di tahun 2026 bukan ditentukan dari seberapa banyak barang baru yang lo beli. Tapi dari seberapa kreatif lo memanfaatkan barang lama.

Jadi, jangan malu kalau sepatu lo kotor atau tas lo cuma satu. Itu tandanya barang itu Dicintai dan Dipakai. Selamatkan bumi dan selamatkan dompet lo dengan bangga.

Barang apa yang paling awet lo pake bertahun-tahun dan gak mau lo ganti? Kaos butut? Atau bantal bau iles? Pamerin kesetiaan lo di kolom komentar!

Use It Up, Wear It Out, Make It Do.

0/Post a Comment/Comments