Chill Zone

Kerja Udah Nggak Happy Tapi Ogah Resign? Welcome to Era 'Job Hugging'

Kerja Udah Nggak Happy Tapi Ogah Resign? Welcome to Era 'Job Hugging'
Kerja Udah Nggak Happy Tapi Ogah Resign? Welcome to Era 'Job Hugging', Bestie!


Hypewe.com - Pernah nggak sih kamu ngerasa muak banget sama kerjaan, tiap pagi rasanya berat banget buat login laptop atau berangkat ke kantor, tapi pas ditanya "Kenapa nggak resign aja?", jawaban kamu cuma: "Takut nggak dapet kerjaan lagi"? Kalau kamu relate banget sama kondisi ini, congrats, kamu resmi terserang virus yang lagi trending di kalangan Gen Z dan Milenial: Job Hugging!

Dilansir dari artikel Mengenal 'Job Hugging', belakangan ini tren job hugging lagi ramai banget dibicarakan. Berbeda 180 derajat sama tren job hopping (kutu loncat) di mana orang hobi ganti-ganti pekerjaan secara berkala demi mengejar gaji lebih tinggi, pengalaman baru, atau jenjang karier kilat.

Job hugging adalah fenomena atau kondisi di mana seorang karyawan memilih untuk tetap bertahan dalam pekerjaannya saat ini, meskipun mereka sebenarnya merasa kurang tertantang, tidak bahagia, atau merasa pekerjaannya sudah tidak memuaskan.

Kenapa Gen Z & Milenial Tiba-Tiba Jadi 'Setia'?

Usut punya usut, fenomena ini terjadi bukan karena kita tiba-tiba jadi karyawan teladan yang loyal tanpa batas. Alasan utamanya agak dark: takut sama realita ekonomi.

Menurut Rebecca Houghton, founder dari manajemen menengah BoldHR, para pekerja tidak memegang erat pekerjaan mereka karena mereka mencintainya. "Mereka 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena, terus terang, alternatifnya terlihat lebih buruk," jelasnya. Intinya, stay di tempat kerja yang mungkin toxic terasa lebih masuk akal daripada mengambil risiko jobless di tengah ketidakpastian perubahan peran.

Faktor pemicu tren ini juga valid banget buat bikin kita overthinking tiap malam:

  • Ketidakpastian Ekonomi & Invasi AI: Berdasarkan laporan Tren Baru 'Job Hugging', kecemasan terhadap kondisi ekonomi global, ancaman teknologi AI yang siap merebut profesi, hingga lambatnya pertumbuhan pekerjaan bikin Gen Z dan profesional muda lebih memprioritaskan stabilitas gaji tetap daripada mengejar peluang baru.

  • Takut Kena Gelombang PHK: Nicole Bachaud, ekonom tenaga kerja dari ZipRecruiter yang dikutip dalam artikel Fenomena 'Job Hugging', menyebutkan bahwa banyak pekerja yang khawatir akan adanya lebih banyak PHK di masa depan seiring mendinginnya pasar kerja. Hal ini membuat pekerja merasa lebih aman berada di peran yang sudah familiar buat mereka ketimbang menjadi karyawan baru di organisasi lain.

  • Lowongan Kerja yang Makin Seret: Tren rekrutmen karyawan baru terus melambat. Di Amerika Serikat sendiri, tingkat perekrutan sempat anjlok ke level terendah, dan tingkat resign menurun drastis karena pekerja merasa gugup untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Cek Ombak: Apakah Kamu Seorang 'Job Hugger'?

Coba self-diagnose tipis-tipis pakai ciri-ciri job hugging dari Forbes berikut ini:

  • Kamu sering menolak tawaran pekerjaan baru (padahal posisi sekarang juga nggak bikin puas) cuma karena takut hasil akhirnya malah lebih buruk.

  • Kamu terjebak di zona nyaman dan menghindari segala peluang buat upgrade skill atau pengembangan profesional.

  • Kehilangan inisiatif; kamu cuma mau ngerjain tugas-tugas gampang dengan risiko minimal daripada mengambil project ambisius yang menantang.

  • Secara mental kamu merasa bosan, frustrasi, atau lelah terus-terusan, tapi kamu tidak melakukan tindakan apa-apa untuk mengubah situasi tersebut.

  • Ragu atau malas untuk menjalin koneksi dengan orang baru dan memperbarui jaringan profesional.

Efek Domino yang Bikin Ngeri

Mungkin kelihatannya sepele, "Ya udahlah yang penting tetep gajian." Eits, tunggu dulu. Mengutip dari Mengenal Job Hugging di Seluruh Dunia, tren ini nyatanya bikin pergerakan pasar kerja menjadi diam alias stagnan. Dampak ngerinya? Lulusan baru (fresh graduate) jadi makin susah dapet kerjaan gara-gara posisi di perusahaan dipeluk erat-erat sama seniornya yang ogah resign.

Di sisi lain, perusahaan juga berhadapan sama bom waktu. Karyawan yang terjebak di job hugging ini sebenarnya punya loyalitas yang sangat rendah. Houghton memberikan peringatan keras buat para leaders: karyawan ini bakal jadi barisan pertama yang kabur secara diam-diam dan cepat begitu kondisi pasar membaik.

Kesimpulan: Survive, but Make it Smart!

Bertahan demi survive di era gempuran ekonomi yang lagi nggak stabil ini emang wajar banget, bestie. Mengutamakan keamanan finansial adalah langkah logis. Tapi ingat, jangan sampai tren job hugging ini malah menghancurkan karier dan kesehatan mental kamu secara perlahan.

Tetap sisihkan waktu untuk upskilling atau nambah relasi profesional. Bangun portofolio dari sekarang. Jadi, siapa tahu pas job market udah pulih dan badai ekonomi udah kelar, kamu udah ready buat glow up dan lompat ke tempat kerja yang jauh lebih worth it!

Hypewe

Kontributor di Hypewe.com - Curated Hype. Real Talk. Game On..

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis komentar!

Posting Komentar