Intro: Ketika Standar Sukses Diukur dari Starting Line
Hypewe.com - Coba deh buka kolom komentar TikTok atau X (Twitter) di video-video influencer yang lagi room tour apartemen mewah di umur 20 tahun, atau video orang yang cerita bisa resign dari kantor buat healing sebulan penuh di Bali tanpa mikirin cicilan. Pasti, nggak sampai scroll lima kali, kamu bakal nemu komentar model begini:
"Wajar, dia kan orang have." atau "Info loker buat kita-kita yang nggak punya privilege jalur langit dong."
Buat Gen Z dan Milenial, ngomongin status sosial dan ekonomi itu udah bergeser dari sekadar iri dengki menjadi sebuah observasi sosiologis ala tongkrongan. Kita hidup di era di mana kesadaran akan kelas sosial (class consciousness) itu tinggi banget. Kita sadar bahwa kerja keras bagai kuda nggak selalu berbanding lurus dengan saldo rekening kalau starting line (garis start) kita udah beda dari awal.
Di artikel Hypewe kali ini, kita bakal membedah secara mendalam apa sih sebenarnya definisi "orang have" di kamus Gen Z, apa saja istilah kasta sosial lainnya yang sering seliweran, dan kenapa kita suka banget ngebahas hal ini!
1. Apa Itu "Orang Have"?
Istilah "Orang Have" sebenarnya merupakan bentuk slang atau serapan campur aduk dari frasa bahasa Inggris "The Haves" (kaum berpunya) dan "The Have-Nots" (kaum tidak berpunya).
Di tongkrongan Gen Z, sebutan "orang have" dipakai untuk mendeskripsikan seseorang yang berasal dari keluarga kaya raya, mapan secara finansial sejak lahir, dan tidak pernah harus pusing mikirin kebutuhan dasar (survival mode).
Ciri khas "orang have" di mata netizen adalah:
Mereka bisa mengambil keputusan hidup yang risky (seperti resign tanpa backup plan, atau bikin start-up yang sering rugi) karena mereka punya "jaring pengaman" alias harta orang tua.
Bisa fokus mengejar passion tanpa terhalang tuntutan membiayai adik sekolah atau bayar utang pinjol keluarga.
Punya mindset bahwa dunia ini aman dan penuh peluang (karena begitulah realita yang mereka rasakan).
2. Glosarium Kasta Sosial ala Gen Z (Biar Nggak Kudet!)
Selain "orang have", Gen Z punya segudang istilah lain untuk memetakan dinamika sosial dan kekayaan. Ini dia beberapa yang paling sering mondar-mandir di FYP:
A. Old Money (Kaya Lama / Kaya Ber- Value) Ini adalah kasta tertinggi dari "orang have". Harta mereka turun-temurun. Ciri khasnya adalah quiet luxury. Mereka nggak suka pamer logo merek gede-gede di bajunya. Pakaian mereka mungkin polos, tapi harganya puluhan juta. Mereka liburan ke Swiss buat main ski, ngomongnya halus, pendidikannya di luar negeri, dan jarang pamer saldo.
B. OKB / New Money / Kasta Flexing Kebalikannya old money. Ini adalah orang-orang yang baru saja menyentuh kekayaan masif (bisa dari bisnis yang tiba-tiba meledak, atau crypto, atau influencer). Karena baru kaya, mereka butuh validasi. Ciri khasnya: baju penuh logo mentereng, suka pamer struk belanjaan, mobil sport warna neon, dan kadang tone-deaf (kurang peka) sama kondisi sosial di sekitarnya.
C. Nepo Baby (Nepotisme Baby) Istilah ini awalnya viral di Hollywood, tapi sangat relatable di Indonesia. Nepo baby adalah anak-anak dari tokoh terkenal (pejabat, artis, pengusaha) yang mendapatkan posisi strategis, kesuksesan karier, atau ketenaran dengan sangat mudah karena "nama belakang" atau koneksi orang tuanya (jalur ordal/orang dalam).
D. Privilege (Hak Istimewa) Ini adalah buzzword (kata kunci) favorit Gen Z. Privilege nggak cuma soal uang. Ada privilege rupa (pretty privilege—kalau kamu good looking, hidupmu lebih mulus), privilege pendidikan, sampai privilege punya orang tua yang suportif dan nggak toxic.
E. Generasi Sandwich (Antitesis "Orang Have") Kalau "orang have" di-carry sama orang tuanya, Generasi Sandwich justru nge-carry orang tua dan adik-adiknya. Mereka terjepit di tengah: harus membiayai generasi atas (orang tua yang nggak punya dana pensiun) dan generasi bawah (anak atau adik). Buat mereka, boro-boro mau soft life ngopi di kafe estetik, gaji bulanan aja udah numpang lewat doang buat bayar token listrik dan BPJS keluarga.
3. Deep Dive: Kenapa Gen Z Kritis (dan Sinis) Banget Sama Hal Ini?
Mungkin generasi boomer akan menganggap tren bahasa ini sebagai bentuk "iri hati" atau "kurang bersyukur". Tapi faktanya nggak sesederhana itu. Ada alasan sosiologis dan psikologis yang mendalam:
Kematian Mitos "Meritokrasi" Dulu, kita diajari bahwa: "Kalau kamu kerja keras, kamu pasti sukses dan kaya." (Ini yang disebut meritokrasi). Tapi Gen Z melihat realita yang berbeda. Kita melihat teman kita yang kerja banting tulang dari pagi sampai malam gajinya mentok di UMR, sementara "orang have" yang kerjanya cuma nongkrong santai bisa diangkat jadi manajer di perusahaan bapaknya. Gen Z menggunakan istilah-istilah di atas untuk "menelanjangi" fakta bahwa kerja keras saja tidak cukup kalau sistemnya tidak adil.
Realita Ekonomi yang Makin Mencekik Harga properti (rumah/tanah) naik gila-gilaan, sementara kenaikan gaji per tahun nggak nutup inflasi. Fakta pahitnya: Gen Z tanpa privilege yang tinggal di kota besar hampir mustahil bisa beli rumah sendiri tanpa bantuan dari Bank of Mom and Dad (bantuan DP dari orang tua). Kesadaran akan jurang ekonomi yang makin lebar inilah yang memicu Gen Z membedah kasta "orang have".
Coping Mechanism Lewat Humor Sarkas Menyadari bahwa kamu nggak punya privilege itu sakit dan bikin kena mental. Jadi, gimana cara Gen Z bertahan? Ya, dengan menertawakannya. Menjadikan istilah "orang have", "nepo baby", atau "info loker jalur langit" sebagai bahan jokes dan meme adalah mekanisme pertahanan (coping mechanism) agar kewarasan mental kita tetap terjaga di tengah beratnya beban hidup.
Kesimpulan: Focus on Your Own Timeline, Bestie!
Memahami bahwa di dunia ini ada "orang have" yang hidupnya pakai cheat code memang penting buat membuka mata kita soal realita sosial. Kita boleh kritis, kita boleh menuntut sistem yang lebih adil, dan kita boleh menjadikannya bahan jokes di tongkrongan.
Tapi ingat Satu Batasan Penting (Boundaries): Jangan biarkan kesadaran soal privilege ini bikin kamu jadi pahit (bitter), apatis, atau berhenti berusaha.
Mengutip quotes yang sering seliweran: "Jangan membandingkan bab pertama (chapter 1) hidupmu dengan bab kedua puluh hidup orang lain, apalagi kalau orang itu nulis bukunya dibantuin joki (baca: privilege)."
Kita mungkin bukan "orang have", kita mungkin Generasi Sandwich yang kalau capek cuma bisa nangis di motor. Tapi kita punya kendali penuh atas cerita kita sendiri. Bangunlah standar kebahagiaan dan soft life versi kamu sendiri, yang sesuai dengan kapasitas dan dompetmu, tanpa harus validasi dari standar kasta sosial internet. Stay sane and keep grinding with boundaries!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis komentar!
Posting Komentar