FYP

Tragedi Skripsi Bikin Kena Mental: Belajar dari Kasus Mahasiswi Undana Sampai Ditelepon Mendikti

Tragedi Skripsi Bikin Kena Mental: Belajar dari Kasus Mahasiswi Undana Sampai Ditelepon Mendikti

Intro: Skripsi Itu Ngerjain Kertas atau Ngerjain Mental, Sih?

Hypewe.com - Buat kamu yang lagi ada di fase semester akhir, pasti setuju kalau ngerjain skripsi itu ibarat main survival game tanpa tutorial. Bukan cuma otak yang diperas buat nyari referensi jurnal, tapi kewarasan mental juga diuji habis-habisan.

Baru-baru ini, timeline kita dibikin nyesek sama kabar dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Seorang mahasiswi diduga mengalami depresi berat hingga mental breakdown setelah ujian skripsinya dibatalkan. Kebayang nggak sih rasanya? Udah begadang berminggu-minggu, ngorbanin waktu tidur dan main, udah siapin mental buat sidang, eh tiba-tiba di-cancel gitu aja. Rasa kecewa dan hancurnya pasti valid banget.

Saking ramainya isu ini, kasus tersebut sampai memancing atensi menteri, lho! Tapi di balik viralnya berita ini, ada satu pertanyaan besar yang harus kita bahas: Kenapa sistem akademik kita sering banget mengesampingkan mental health mahasiswanya?

Mari kita bedah red flag birokrasi kampus ini dari kacamata Gen Z.

1. The Plot Twist: Saat Mendikti Turun Tangan Langsung

Ketika berita mahasiswi Undana ini viral dan memancing kemarahan netizen, ada satu plot twist yang lumayan bikin kaget. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti) kabarnya langsung turun tangan dan menelepon mahasiswi tersebut secara personal.

Langkah Pak Menteri buat ngasih support moral dan menjanjikan solusi ini memang patut diapresiasi (sebuah green flag dari kementerian). Tapi, kalau kita mau berpikir lebih kritis, ini juga jadi tamparan keras. Haruskah seorang mahasiswa sampai depresi dan viral dulu baru ada evaluasi sistem?

Insiden ini membuktikan kalau birokrasi di level fakultas atau prodi sering kali sangat kaku dan abai terhadap kondisi psikologis mahasiswanya. Kampus yang seharusnya jadi safe space buat belajar, malah sering kali berubah jadi stress factory.

2. Relasi Kuasa (Power Dynamics) yang Terlalu Jomplang

Kalau kita mau deep dive ke akar masalahnya, semua tragedi skripsi biasanya bermuara pada satu hal: Relasi Kuasa.

Di kampus, posisi dosen (terutama pembimbing dan penguji) itu rasanya kayak dewa, sementara mahasiswa ada di posisi yang sangat rentan (powerless). Coba deh perhatiin standar ganda yang sering dinormalisasi ini:

  • Mahasiswa telat bimbingan 10 menit = Diomelin, disuruh pulang, dibilang nggak niat lulus.

  • Dosen batalin jadwal sidang H-1 (atau bahkan pas hari H) = Mahasiswa cuma bisa bilang, "Baik Bapak/Ibu, tidak apa-apa, kapan kira-kira bapak/ibu ada waktu luang lagi?" sambil nangis di dalam hati.

Ketidakseimbangan power ini bikin mahasiswa nggak punya ruang buat protes. Mereka dipaksa menelan kekecewaan mentah-mentah karena takut di-X (blacklist) atau dipersulit kelulusannya. Ketika emosi ini ditumpuk terus-menerus tanpa ada saluran untuk komplain yang aman, wajar kalau ujungnya adalah ledakan depresi.

3. Stop Normalisasi "Generasi Strawberry", Ini Masalah Sistemik!

Setiap kali ada kasus mahasiswa stres atau depresi karena kuliah, pasti ada aja boomer atau orang-orang yang berkomentar: "Ah, dasar Generasi Strawberry, mentalnya lembek! Dulu zaman saya ngetik skripsi pakai mesin tik dapet dosen killer biasa aja tuh!"

Hold up! Mari kita luruskan kesesatan berpikir ini.

Menuntut perlakuan yang manusiawi, transparansi jadwal, dan kepastian akademik bukanlah tanda mental yang lemah. Itu adalah hak dasar seorang mahasiswa. Kalau birokrasi kampus berantakan, dosen sulit dihubungi, dan SOP pembatalan sidang tidak berpihak pada kerugian mahasiswa, maka yang cacat adalah sistemnya, bukan mental mahasiswanya.

Gen Z bukan generasi yang lemah; kita cuma generasi yang lebih sadar (aware) akan pentingnya kesehatan mental dan berani speak up kalau ada sistem yang toxic.

4. Apa yang Harus Diperbaiki Sama Kampus ke Depannya?

Kasus mahasiswi Undana ini harus jadi momentum buat semua kampus di Indonesia untuk berbenah. Nggak bisa lagi pakai gaya lama. Berikut beberapa hal yang wajib banget diimplementasikan kalau kampus mau ramah Gen Z:

  • SOP Pembatalan yang Adil: Kalau dosen membatalkan sidang secara mendadak bukan karena keadaan darurat (force majeure), harus ada kompensasi jadwal ulang yang jelas, bukan digantung tanpa kepastian.

  • Pusat Bantuan Psikologis yang Aktif: Kampus harus punya konselor sebaya atau psikolog profesional yang gampang diakses dan menjamin kerahasiaan (confidentiality), supaya mahasiswa yang mulai burnout bisa dapet pertolongan pertama.

  • Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (Tanpa Represi): Harus ada sistem anonim di mana mahasiswa bisa melaporkan oknum dosen yang sering melakukan power abuse tanpa takut nilai skripsinya dihancurkan.

Kesimpulan: You Are More Than Your Thesis!

Buat kamu yang sekarang lagi di fase ngerjain skripsi, lagi stuck di Bab 3, atau lagi nunggu jadwal sidang yang nggak turun-turun: Tarik napas panjang.

Ingat, skripsi itu cuma satu chapter kecil dari buku kehidupan kamu yang masih panjang banget. Nilai atau gelar sarjana kamu nggak mendefinisikan seluruh value yang kamu miliki sebagai manusia. Kalau kamu ngerasa udah di ambang batas kewarasan, please take a break. Cerita ke teman terdekat, nangis kalau perlu, atau cari bantuan profesional. Nggak ada selembar ijazah pun yang sepadan dengan kewarasan mental kamu.

Sending lots of virtual hugs and good vibes buat mahasiswi Undana dan semua pejuang skripsi di luar sana. You guys got this! Jangan lupa, terus pantengin HypeWe.com buat baca opini dan spill the tea isu kampus lainnya!

Hypewe

Kontributor di Hypewe.com - Curated Hype. Real Talk. Game On..

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis komentar!

Posting Komentar