Kaca Rumah Pecah, Genteng Rontok? Itu Bukan Gempa, Itu 'Sound Horeg'! Fenomena 'Adu Bass' Ratusan Juta yang Bikin Jantung Copot tapi Tetap Dijogetin

Hypewe.com – Kalau lo tinggal di Jakarta, mungkin definisi "berisik" lo adalah suara klakson macet atau tetangga karaokean. Tapi kalau lo main ke daerah Jawa Timur (Malang, Kediri, Blitar) atau Jawa Tengah pas musim karnaval, definisi berisik itu naik level jadi: Bencana Alam Buatan.

Di sana, ada fenomena bernama Sound Horeg (Horeg artinya bergetar/beruncang). Truk-truk fuso dimodifikasi buat ngangkut puluhan subwoofer raksasa. Tujuannya satu: Menciptakan suara bass sekeras mungkin sampai tanah bergetar, dada sesak, dan kaca rumah warga retak. Anehnya, makin keras suaranya, makin banyak orang yang joget di depannya. Kok bisa hobi yang "merusak" ini jadi budaya viral?

1. Adu Gengsi: Makin "Horeg", Makin Sultan

Bagi pemilik Sound System (seperti Brewog Audio, Riswanda, dll), ini adalah ajang pembuktian kasta. Harga satu set Sound Horeg beserta truk, genset, dan lighting-nya bisa mencapai Miliaran Rupiah. Biaya sewanya buat satu kali karnaval bisa puluhan juta.

Jadi, ketika suara bass-nya berhasil bikin atap teras tetangga rontok, itu adalah Prestasi. Ada kepuasan tersendiri (Pride) saat sound mereka dibilang "Ngeri", "Sadis", atau "Menyala Abangku". Ini adalah flexing kearifan lokal yang sangat mahal.

2. Kaca Pecah Diganti? Santai!

Salah satu momen paling viral di TikTok adalah video warga yang dengan sukarela memecahkan kaca jendela rumahnya sendiri sebelum rombongan Sound Horeg lewat. Alasannya: "Daripada pecah kaget, mending dipecahin dulu biar plong."

Dan kalaupun ada kerusakan (genteng melorot, plafon jebol), biasanya panitia atau pemilik sound sudah punya kesepakatan ganti rugi. Bagi warga pecinta Horeg, kerusakan rumah itu harga yang pantas dibayar demi hiburan setahun sekali. Mindset yang sulit dipahami orang kota, tapi nyata.

3. Sensasi "Jantung Dipompa"

Kenapa orang betah joget di depan speaker yang suaranya 120+ desibel (setara suara pesawat jet)? Katanya, sensasi bass yang menghantam dada itu bikin Adrenalin naik. Ada efek trance (mabuk kepayang) saat badan lo bergetar ngikutin irama lagu "Jedag-Jedug" koplo.

Tapi dari sisi medis, ini bahaya banget, Bestie. Gendang telinga bisa pecah permanen, dan getarannya bisa memicu gangguan irama jantung (Arrhythmia) buat yang gak kuat. Jadi kalau lo punya lemah jantung, mending evakuasi radius 1 KM.

4. Pro-Kontra: Hiburan Rakyat vs Gangguan Umum

Di medsos, netizen terbelah dua.

  • Tim Hujat: Menganggap ini polusi suara, norak, dan mengganggu ketenangan (apalagi kalau lewat deket Masjid atau Rumah Sakit).

  • Tim Pembela: Menganggap ini hiburan rakyat murah meriah, menggerakkan ekonomi UMKM (penjual cilok/es teh panen raya), dan ajang silaturahmi.

Pemerintah daerah beberapa kali mencoba melarang atau membatasi desibel-nya, tapi biasanya kalah sama "kekuatan massa" pecinta Horeg.

(Kesimpulan) Indonesia emang random banget. Di saat negara lain bikin teknologi peredam suara (Noise Cancelling), kita malah bikin teknologi Pencipta Gempa.

Fenomena Sound Horeg mengajarkan kita satu hal: Definisi "Bahagia" tiap orang itu beda. Ada yang bahagia dengan ketenangan (Silent Retreat), ada yang bahagia kalau jantungnya mau copot kena bass. Kalau lo penasaran, cobain sekali seumur hidup nonton langsung. Jangan lupa bawa kapas buat nyumpel kuping!

Lo Tim 'Horeg' yang suka joget depan sound, atau Tim 'Emosi' yang pengen lempar batu ke truknya? Spill pengalaman lo ketemu karnaval ini di kolom komentar!

Feel the Bass, Break the Glass.

0/Post a Comment/Comments