Tren 'Underconsumption Core' 2026: Saat Pake Barang Sampai Rusak Jadi Estetik

Hypewe.com – Dulu, buka TikTok isinya video "Shopee Haul" atau "Unboxing iPhone 16". Semua orang berlomba-lomba pamer barang baru yang masih segel. Kalau lo pake sepatu yang solnya agak kuning atau tas yang kulitnya ngelupas dikit, lo dibilang "Gembel".

Tapi di tahun 2026, angin berputar. Video yang viral justru video cewek yang ngegunting tube odol biar bisa dikerok sampai tetes terakhir. Atau video cowok yang bangga pake sepatu boots kulit yang udah baret-baret karena pemakaian 5 tahun. Selamat datang di era Underconsumption Core. Sebuah gerakan perlawanan terhadap budaya konsumtif, di mana "Memakai apa yang sudah lo punya" dianggap sebagai level tertinggi dari estetika.

1. Apa Itu Underconsumption Core?

Simpelnya: Seni Merasa Cukup. Ini adalah estetika yang merayakan penggunaan barang sampai batas maksimalnya (Maxing out utility). Ciri khas konten ini:

  • Project Pan: Makeup yang dipake sampai besinya kelihatan (habis total).

  • Capsule Wardrobe: Lemari baju isinya cuma 20 potong, tapi dipake muter terus (Outfit Repeat).

  • Repaired Items: Celana jeans yang sobek lalu dijahit/ditambal (Visible Mending), bukan dibuang. Pesannya jelas: Barang yang terlihat "Pernah Dipakai" (Lived-in) itu lebih punya jiwa daripada barang baru yang kaku.

2. Kenapa Viral Sekarang? (Inflasi & Eco-Anxiety)

Ada dua pemicu utama:

  • Dompet Menipis: Inflasi 2026 bikin harga kebutuhan pokok naik. Gen Z gak punya duit lagi buat beli barang viral tiap minggu. Daripada malu karena miskin, mereka me-rebranding kemiskinan itu menjadi gaya hidup Underconsumption. "Gue bukan gak mampu beli baru, gue lagi ikut tren Underconsumption." (Cerdas, kan?)

  • De-Influencing: Orang mulai muak sama Influencer yang nyuruh beli barang sampah. Gerakan De-Influencing (Influencer yang ngelarang lo beli barang) makin laku. Kita sadar bahwa menumpuk barang cuma bikin stres dan ngerusak bumi.

3. Romantisasi "Barang Buluk"

Di tren ini, barang yang lecet punya cerita. Meja kayu yang ada bekas tumpahan kopinya dianggap estetik. Sepatu converse yang kotor dianggap cool. Ini mengubah mindset kita. Dulu: "Yah, sepatu gue kotor, harus beli baru." Sekarang: "Wih, sepatu gue udah nemenin gue ke 5 konser dan 3 gunung. Ini sepatu bersejarah." Kita diajak untuk Menghargai Proses Penuaan Barang, sama seperti kita menghargai penuaan diri sendiri.

4. Cara Gabung Tren Ini (Tanpa Kelihatan Pelit)

  • Stop "Restock" Berlebihan: Jangan beli sabun cuci muka baru kalau yang lama belum bener-bener habis. Gunting kemasannya, kerok isinya. Itu kepuasan batin tersendiri (Oddly Satisfying).

  • Decluttering, Bukan Nimbun: Jual atau donasikan baju yang gak lo pake. Sisakan yang bener-bener lo suka. Ruangan yang lega itu mewah.

  • Perbaiki Sebelum Ganti: Sol sepatu lepas? Lem ke tukang sol (20 ribu), jangan beli sepatu baru (2 juta). Tas putus talinya? Jahit.


Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Q: Bedanya sama Minimalisme apa? A: Minimalisme (ala Marie Kondo) seringkali tentang estetika "Visual Bersih" (tembok putih, barang dikit tapi mahal). Underconsumption Core lebih "Berantakan" dan realistis. Gak masalah rumah lo agak rame barang, asalkan itu barang yang LO PAKE, bukan barang pajangan doang.

Q: Apa ini bakal bikin ekonomi mati (toko sepi)? A: Mungkin toko Fast Fashion bakal sepi. Tapi jasa servis (tukang jahit, tukang sol, reparasi elektronik) bakal laku keras. Perputaran uang cuma berpindah dari "Membeli Produk" ke "Membeli Jasa Perawatan".


(Kesimpulan) Membeli barang baru itu gampang (kalau ada duitnya). Tapi setia sama barang lama, merawatnya, dan memakainya sampai rusak, itu butuh karakter.

Tahun 2026, keren itu bukan tentang seberapa banyak paper bag belanjaan di tangan lo. Keren itu adalah seberapa damai hidup lo dengan apa yang sudah lo miliki.

Barang terlama apa yang masih lo pake sampai sekarang? Kaos partai tahun 2014? Atau dompet butut hadiah mantan? Pamerkan "kebulukan" lo di komentar!

Use It Up, Wear It Out, Make It Do.

0/Post a Comment/Comments