Demi Adsense, Anak Jadi Korban? Viral Kasus 'Sharenting' & Kenapa Lo Wajib Stop Post Foto Bocil Sekarang

Hypewe.com – Timeline X (Twitter) dan TikTok lagi panas banget gara-gara sebuah utas (thread) viral dari seorang remaja berinisial "A" (17 tahun). Dia bukan curhat soal putus cinta, tapi dia sedang mempersiapkan gugatan hukum kepada orang tua kandungnya sendiri. Alasannya? Karena sejak lahir sampai SMA, wajah, aib, dan kehidupan pribadinya dieksploitasi jadi konten YouTube dan Instagram demi endorsement dan adsense, tanpa sepeserpun dia menikmati privasinya.

Kasus ini membuka kotak pandora tentang fenomena "Sharenting" (Share + Parenting). Dulu, foto anak di dompet itu tanda sayang. Di tahun 2026, foto anak di Instagram itu seringkali tanda "Sapi Perah". Netizen terbelah, ada yang bilang "Anak durhaka", tapi mayoritas Gen Z justru mendukung si "A". Kenapa isu ini meledak sekarang? Karena generasi yang dulunya jadi bayi-bayi viral itu sekarang sudah remaja, dan mereka mulai melawan.

The Truman Show Syndrome: Hidup dalam Reality Show Paksaan

Bayangkan lo lagi nangis karena nilai ulangan jelek, atau lagi diare, terus ibu lo malah ngerekam sambil ketawa dan di-upload ke Story. Jutaan orang nonton. Jejak digital itu abadi. Pas lo mau daftar kuliah atau kerja nanti, HRD bisa liat video lo lagi tantrum waktu umur 5 tahun. Malu? Pasti.

Psikolog menyebut ini "The Truman Show Syndrome". Anak tumbuh dengan rasa paranoid, merasa selalu diawasi kamera, dan kehilangan otonomi atas tubuhnya sendiri. Mereka bingung: "Ibu sayang aku beneran, atau sayang karena aku bikin engagement naik?" Hubungan orang tua dan anak jadi transaksional. Kalau anak gak mau direkam, orang tua marah karena "Jadwal upload berantakan". Ini bukan kasih sayang, ini eksploitasi tenaga kerja anak berkedok family vlog.

Bahaya Nyata: Digital Kidnapping & Predator AI

Kalau alasan psikologis belum cukup bikin lo takut, coba pikirkan aspek keamanannya. Di era AI (Artificial Intelligence) tahun 2026, foto wajah anak lo yang HD (High Definition) itu adalah bahan bakar empuk buat predator.

Ada istilah ngeri namanya "Digital Kidnapping". Orang asing bisa mengambil foto anak lo, lalu menggunakan teknologi Deepfake untuk membuat materi pornografi anak (CSAM) atau bahkan membuat persona palsu di dunia maya seolah-olah itu anak mereka. Lo pamer "Anakku lucu banget lagi mandi", tapi di Dark Web, foto itu diperjualbelikan dengan harga mahal. Ini bukan nakut-nakutin, ini realita kejahatan siber yang sedang diperangi Kominfo dan siber polri saat ini.

Saatnya Gen Z Memutus Rantai "Eksploitasi Lucu"

Kita, Gen Z dan Milenial muda, adalah generasi pertama yang sadar betapa jahatnya jejak digital. Jangan ulangi kesalahan generasi sebelumnya (Boomers/Gen X) yang polos soal internet. Kalau lo punya keponakan, adik, atau nanti punya anak sendiri, terapkan aturan "Privasi Dulu, Konten Belakang".

Menutupi wajah anak dengan stiker emoji di postingan bukan lebay, itu langkah cerdas melindungi masa depan mereka. Stop normalisasi prank anak sampai nangis demi views. Stop bikin akun IG buat bayi yang bahkan belum bisa ngomong. Biarkan mereka tumbuh tanpa beban harus jadi "Selebgram Cilik".

Ingat kasus si "A" yang viral tadi. Jangan sampai nanti di masa depan, anak lo sendiri yang nuntut lo di pengadilan karena lo mencuri masa kecil mereka demi validasi maya. Menjadi orang tua itu amanah, bukan manajer artis.

Gimana menurut lo? Apakah orang tua berhak 100% atas privasi anaknya, atau anak punya hak menolak dikontenin? Diskusi santai yuk di bawah, tapi jangan sampe berantem ya!

0/Post a Comment/Comments