Hypewe.com – "Hati-hati ngomong, nanti di-cancel lho!"
Kalimat itu sekarang jadi momok menakutkan buat siapa aja, mulai dari selebgram, pejabat, sampai teman sekelas kita sendiri. Satu kesalahan kecil, satu tweet lama yang digali lagi, karir seseorang bisa hancur dalam semalam gara-gara kekuatan jari netizen.
Banyak yang bilang Gen Z itu generasi "Snowflake" (lembek) yang dikit-dikit tersinggung dan hobi nge-cancel orang. Tapi tunggu dulu, apakah Cancel Culture itu murni jahat? Atau sebenarnya ini adalah bentuk Demokrasi Jalanan versi digital?
Di rubrik POV: Politics kali ini, kita bakal bedah tipis-tipis batas antara Bullying dan Accountability (Akuntabilitas). Karena, bestie, dua hal itu beda banget!
1. Cancel Culture sebagai "Alat Orang Biasa"
Coba bayangin, dulu kalau ada artis atau pejabat yang rasis, seksis, atau melakukan pelecehan, mereka aman-aman aja karena mereka punya kuasa dan uang buat nutup mulut media.
Nah, media sosial mengubah permainan itu. Cancel Culture lahir sebagai senjata orang biasa (kayak kita) buat menghukum orang kuat yang selama ini "kebal hukum". Ketika hukum negara tumpul, sanksi sosial jadi tajam. Jadi, kalau cancel culture ditujukan ke predator seksual atau koruptor, itu bukan jahat. Itu namanya Menuntut Keadilan.
2. Kapan Jadi Toxic? (Masalah Doxing & Harassment)
Masalahnya, netizen sering kebablasan. Niatnya mau ngehukum si pelaku, eh malah nyerang fisik, nyebarin alamat rumah (Doxing), sampai neror keluarganya yang gak tau apa-apa.
Ini yang bikin Cancel Culture jadi mengerikan. Ingat, tujuan kita adalah bikin dia sadar dan tanggung jawab, bukan bikin dia bunuh diri. Kalau kritik lo isinya udah sumpah serapah dan ancaman fisik, lo bukan lagi pejuang keadilan, lo cuma Cyberbully yang berlindung di balik topeng moral.
3. Ruang untuk Bertumbuh (The Art of Apology)
Gen Z sering lupa kalau manusia itu tempatnya salah. Ada orang yang di-cancel gara-gara tweet bodoh yang dia tulis 10 tahun lalu pas dia masih ABG labil. Adil gak sih menghukum orang dewasa atas kesalahan masa kecilnya?
Kita harus mulai normalisasi Permintaan Maaf yang Tulus. Kalau orangnya udah ngaku salah, minta maaf, dan nunjukin perubahan perilaku (Growth), ya udah, kasih kesempatan kedua. Jangan diinjek terus sampai mati. People change, and that’s okay.
4. Selektif Memilih Target
Jangan samain Public Figure sama orang biasa. Kalau pejabat publik ngawur, wajib kita cancel dan kritik keras karena dia digaji rakyat. Tapi kalau ada orang awam (misal: mbak-mbak random di TikTok) yang bikin konten agak cringe dikit, gak perlu lah kita keroyok satu negara.
Hemat energi lo buat isu-isu yang beneran penting (Lingkungan, HAM, Korupsi), jangan buang energi buat nge-war hal receh.
(Kesimpulan) Cancel Culture itu ibarat pisau bermata dua. Bisa dipakai buat masak (menegakkan keadilan), bisa juga dipakai buat melukai (membunuh karakter).
Sebagai Gen Z yang cerdas, yuk kita geser pola pikir dari "Cancel Culture" menjadi "Call-out Culture". Kita tegor kesalahannya, kita tuntut tanggung jawabnya, tapi tetep manusiakan manusianya.
Pernah gak lo ngerasa bersalah ikutan nge-cancel seseorang? Atau lo setuju kalau sanksi sosial itu hukuman paling efektif?
Be Critical, Not Cruel!

Posting Komentar