Hypewe.com – Lo kehilangan motor? Lapor polisi disuruh ikhlas. Lo kena tipu online shop? Lapor bank prosedurnya muter-muter. Tapi begitu lo bikin thread di X (Twitter) lengkap dengan kronologi dan bukti CCTV, terus di-repost akun base besar sampai tembus 10 ribu likes, tiba-tiba keajaiban terjadi.
Dalam hitungan jam, akun resmi instansi terkait langsung membalas: "Siap, segera kami tindak lanjuti!" Besoknya, pelaku ketangkap. Barang lo balik.
Selamat datang di "Republik Konten". Di tahun 2026, adagium hukum "Equality Before the Law" (Semua sama di mata hukum) rasanya sudah basi. Gantinya adalah "No Viral, No Justice". Hukum tumpul ke atas, tapi tajam kalau sudah masuk FYP TikTok. Kenapa negara kita bisa bergeser dari Negara Hukum (Rechtsstaat) menjadi Negara Viral (Viralcracy)? Dan kenapa ini sebenernya bahaya banget buat lo?
Hilangnya Kepercayaan pada Institusi Formal
Gen Z dan Alpha tidak lahir dengan sifat pembangkang. Mereka tumbuh melihat fakta lapangan. Ketika jalur formal (kantor polisi, ombudsman, pengadilan) dirasa buntu, lambat, atau butuh "pelicin", mereka mencari jalur alternatif yang lebih efisien: Pengadilan Media Sosial.
Media sosial menjadi "Mahkamah Agung" baru. Netizen adalah hakimnya, dan Like/Share adalah palunya. Pejabat publik kini lebih takut di-rujak netizen daripada ditegur atasan. Ini menunjukkan krisis kepercayaan akut. Rakyat merasa negara baru bekerja kalau sudah dipermalukan di depan umum.
Sisi Gelap: Keadilan Hanya Milik yang "Good Looking" & Punya Kuota
Terdengar heroik memang, tapi sistem ini cacat parah. Kalau keadilan berbasis viral, gimana nasib mereka yang:
Gak punya akun medsos?
Gak jago nulis thread (storytelling)?
Gak punya wajah good looking yang gampang ditarik simpati?
Tinggal di pelosok yang sinyal aja susah?
Mereka akan tetap tertindas dalam sunyi. Kasus mereka tenggelam karena kalah algoritma sama kasus perselingkuhan artis. Viralisme menciptakan Kesenjangan Keadilan Baru. Yang populer ditolong, yang sunyi dilupakan. Keadilan seharusnya hak asasi, bukan hadiah giveaway dari algoritma.
Bahaya "Mob Justice" & Salah Sasaran
Kekuatan netizen itu liar dan tanpa SOP. Seringkali, semangat membela kebenaran berubah jadi persekusi brutal yang salah sasaran (Witch Hunt). Ingat kasus di mana netizen menghujat satu toko karena video viral yang ternyata potongannya out of context? Toko itu bangkrut, pemiliknya depresi, padahal ternyata dia korban fitnah.
Di "Republik Konten", azas praduga tak bersalah itu mati. Begitu foto lo dipajang dengan narasi negatif, lo divonis bersalah oleh jutaan orang sebelum lo sempat membela diri. Kalau ternyata itu hoax, nama baik lo udah hancur dan gak bisa balik lagi.
Jadilah Netizen Pengawas, Bukan Hakim Jalanan
Kita gak bisa serta-merta nyalahin netizen. Viralisme adalah mekanisme bertahan hidup rakyat kecil saat ini. Tapi, kita harus sadar risikonya.
Jangan telan mentah-mentah semua narasi "Victim" yang lewat di beranda lo. Jangan buru-buru doxing (sebar data pribadi) orang yang belum jelas salahnya. Gunakan kekuatan jari lo untuk menekan sistem agar bekerja BENAR, bukan untuk menggantikan sistem itu sendiri. Karena negara yang sehat adalah negara di mana warganya bisa dapat keadilan tanpa harus punya 10 ribu followers dulu.
Pernah ngalamin lapor masalah baru ditanggepin pas udah rame di medsos? Ceritain pengalaman lo di bawah, biar para pejabat yang baca (semoga) sadar diri!

Posting Komentar