Politik Hari Ibu: Cuti 6 Bulan Cuma Gimmick?

Hypewe.comSelamat Hari Ibu! Hari ini, timeline medsos penuh foto pejabat dan politisi sungkem sama ibu mereka. Caption-nya manis, penuh puja-puji soal pengorbanan wanita. Tapi mari kita bicara fakta pahit di balik seremonial ini.

Tahun 2024 lalu, DPR mengesahkan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (UU KIA). Salah satu poin "Jualan"-nya adalah Cuti Melahirkan sampai 6 Bulan (3 bulan wajib + 3 bulan kondisi khusus). Sekarang sudah akhir 2025. Pertanyaannya: Apakah lo atau temen kantor lo beneran berani ngambil cuti itu? Atau itu cuma gimmick politik yang indah di kertas tapi horor di lapangan?

1. Dilema HRD: "Wanita Makin Susah Cari Kerja?"

Niat UU KIA itu mulia: Menurunkan angka stunting dan memastikan ASI eksklusif. Tapi efek samping politiknya kerasa banget di 2025. Banyak perusahaan (terutama swasta profit oriented) yang jadi mikir dua kali buat nge-rekrut perempuan usia subur/menikah. "Waduh, kalau dia hamil, kita harus bayar gaji penuh 3 bulan + 75% di bulan berikutnya, padahal dia gak kerja." Akibatnya? Diskriminasi rekrutmen secara halus (Silent Discrimination) makin kencang. Lowongan kerja diam-diam lebih prefer laki-laki.

2. Cuti Ayah (Paternity Leave): Masih Anak Tiri

Hari Ibu sering dirayakan heboh, tapi peran Ayah sering dilupakan dalam regulasi. Di UU KIA, Cuti Pendampingan Suami (Cuti Ayah) cuma 2 hari, dan bisa nambah 3 hari lagi (total 5 hari). Halo? 5 hari buat ngurus bayi baru lahir? Beban pengasuhan seolah-olah 100% dilempar balik ke Ibu. Secara politik, ini menunjukkan kalau negara kita masih memandang wanita sebagai "Domestik", bukan partner setara. Gimana Ibu mau sejahtera kalau Ayahnya harus balik ngantor saat jahitan operasi caesar istrinya belum kering?

3. Fenomena "Quiet Firing" Pasca Cuti

Ini realita gelap yang banyak terjadi. Ada pekerja wanita yang nekat ambil cuti 6 bulan sesuai hak UU KIA. Pas balik ke kantor? Meja udah dipindah, jobdesk strategis udah dikasih ke orang lain, dan dia diasingkan. Ini namanya Quiet Firing. Perusahaan gak mecats secara langsung (karena melanggar hukum), tapi bikin lo gak betah biar resign sendiri. Politisi yang bikin UU ini jarang mikirin perlindungan pasca-cuti yang real di dunia korporat yang kejam.

4. Kado Terbaik Bukan Bunga, Tapi Kebijakan

Buat para politisi yang hari ini sibuk pencitraan Hari Ibu: Kami gak butuh ucapan di baliho. Perempuan Indonesia butuh:

  • Daycare (Penitipan Anak) Murah & Terpercaya di setiap gedung perkantoran (sesuai janji kampanye).

  • Sanksi Tegas buat perusahaan yang mendiskriminasi ibu hamil.

  • Harga Susu & Popok yang stabil (inflasi 2025 bikin pusing!).

(Kesimpulan) Merayakan Hari Ibu itu sah-sah saja. Tapi jangan sampai perayaan ini menutupi ketimpangan struktural yang masih terjadi. UU KIA adalah langkah awal yang bagus, tapi tanpa pengawasan ketat, itu cuma jadi macan kertas.

Buat para Ibu yang bekerja (Working Mom) maupun Ibu Rumah Tangga (Full Time Mom), kalian adalah politisi paling tangguh di rumah masing-masing. Selamat berjuang melawan inflasi dan ekspektasi sosial!

Menurut lo, cuti melahirkan 6 bulan itu ngebantu atau malah bikin wanita susah dapet promosi? Debat sehat yuk di kolom komentar!

Policy over Poetry.


0/Post a Comment/Comments