Hobi Kok Harus Cuan? Tekanan 'Monetize Everything' Bikin Gen Z Lupa Caranya Bersenang-senang (Dan Malah Jadi Stres!)

Hypewe.com – Pernah gak sih lo lagi asik ngelakuin sesuatu, misalnya merajut, main game, atau bikin kue, terus tiba-tiba ada temen atau keluarga yang nyeletuk: "Wah bagus banget! Kenapa gak dijual aja? Lumayan lho buat nambah duit jajan." "Sayang banget kalau cuma buat sendiri. Bikin konten TikTok dong, siapa tau viral terus di-endorse."

Niatnya memuji, tapi efeknya? Mematikan kebahagiaan lo. Tiba-tiba, kegiatan yang tadinya buat healing, berubah jadi beban kerja baru. Lo mulai mikirin packaging, mikirin algoritma, mikirin harga jual. Inilah fenomena "The Death of Hobbies". Di tahun 2025, Gen Z merasa bersalah kalau melakukan sesuatu yang "tidak produktif" secara finansial. Kita lupa caranya punya hobi yang murni buat seneng-senang.

1. Jebakan "Side Hustle Culture"

Kita hidup di era di mana Passive Income dan Side Hustle didewakan. Narasi di medsos selalu: "Ubah passion-mu jadi duit!" Akibatnya, otak kita ter-doktrin bahwa Waktu = Uang.

Kalau lo menghabiskan 3 jam buat melukis tapi lukisannya gak dijual, lo merasa 3 jam itu "terbuang sia-sia". Padahal, hobi itu fungsinya buat Mengisi Jiwa, bukan mengisi dompet. Hobi adalah tempat pelarian dari pekerjaan utama, bukan malah jadi pekerjaan kedua yang bikin burnout.

2. Ketakutan Menjadi Pemula (Performance Anxiety)

Gara-gara mentalitas "Harus Cuan", kita jadi takut ngelakuin hobi kalau kita gak jago-jago amat. "Ah ngapain gue belajar main gitar, suara gue jelek, gak bakal laku di Spotify."

Kita kehilangan nikmatnya jadi Mediocre (Biasa-biasa aja). Padahal, inti dari hobi adalah prosesnya, bukan hasilnya. Lo boleh main bola walau tendangan lo miring. Lo boleh nulis puisi walau rimanya berantakan. Kalau tujuannya bukan duit, lo gak punya beban buat jadi sempurna.

3. Hobi Jadi Konten = Kerja Rodi Baru

Banyak Gen Z yang hancur hobinya gara-gara Konten. Awalnya suka traveling. Terus mikir, "Harus direkam nih buat Reels." Akhirnya liburannya malah sibuk ngambil angle, ngedit video, dan stres mikirin caption. Pas views-nya dikit, lo jadi benci sama traveling.

Hobi yang dikontenkan itu bukan lagi hobi. Itu Pekerjaan Media. Dan saat hobi jadi kerjaan, lo kehilangan tempat istirahat lo. Lo kerja 24 jam tanpa henti.

4. Gerakan "Anti-Cuan": Rebut Kembali Waktu Luangmu!

Gimana cara ngelawan tren ini? Lakukanlah "Gatekeeping" pada hobi lo sendiri.

  • Kalau lo suka masak, masaklah buat dimakan sendiri. Jangan diposting.

  • Kalau lo suka gambar, gambarlah di buku sketsa jelek. Jangan buka komisi.

  • Bilang ke diri sendiri: "Kegiatan ini bujetnya NOL rupiah masuk, tapi sejuta kebahagiaan masuk."

Berani bilang: "Enggak, gue gak mau jual ini. Ini buat gue." Itu adalah bentuk perlawanan paling punk rock di tahun 2026.

(Kesimpulan) Uang emang penting, Bestie. Biaya hidup mahal. Tapi kewarasan lo jauh lebih mahal.

Jangan biarkan kapitalisme mengambil satu-satunya hal yang bikin lo senyum di akhir pekan. Mulai hari ini, cobalah cari satu hobi yang bener-bener "Gak Guna" secara finansial, tapi bikin hati lo penuh. Dan lakukanlah dengan buruk, dengan jelek, dengan bahagia.

Apa hobi lo yang udah 'terkontaminasi' pikiran cuan? Atau hobi apa yang pengen lo mulai tanpa tekanan? Share di kolom komentar!

Do It Badly, Do It for Free, Do It for You.

0/Post a Comment/Comments