Katanya Males Baca? Tren 'BookTok' Buktikan Gen Z Justru Generasi Paling Literat (Siap-Siap TBR Numpuk!)

Hypewe.com"Katanya Gen Z itu attention span-nya pendek, gak kuat baca teks panjang." Halah, mitos! Coba deh buka TikTok atau Instagram Reels, terus cari tagar #BookTok.

Lo bakal nemuin jutaan video anak muda yang nangis kejer gara-gara plot twist novel, pamer rak buku yang estetik parah, atau lagi sibuk nempelin sticky notes warna-warni di halaman buku (Annotating).

Tahun 2025/2026 ini jadi era kebangkitan buku fisik. Toko buku yang tadinya sepi, sekarang rame lagi diserbu remaja. Kenapa sih hobi yang kesannya "kutu buku" ini tiba-tiba jadi cool dan hype banget? Yuk, kita buka lembaran barunya!

1. Review Jujur Lewat "Vibes"

Beda sama resensi buku koran zaman dulu yang bahasanya kaku, review di BookTok itu jualan Emosi dan Vibes.

Kreator gak bakal jelasin sinopsis panjang lebar. Mereka bakal bilang: "Guys, baca buku ini kalau lo mau ngerasain sakit hati kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." atau "Buku ini bakal bikin lo gak bisa tidur 3 hari karena plot twist-nya gila!" Review emosional inilah yang bikin kita penasaran setengah mati. Kita pengen ngerasain "sakit" atau "senang" yang sama kayak si kreator.

2. Buku Fisik itu "Aesthetic Prop"

Kita gak bisa bohong, visual itu penting. Di era digital, megang buku fisik (paperback/hardcover) adalah bentuk detox yang estetik.

Cover buku zaman sekarang desainnya cakep-cakep banget. Numpuk buku di meja samping kopi, atau bikin rak buku pelangi (Rainbow Bookshelf), itu konten yang Instagramable banget. Gen Z menjadikan buku sebagai bagian dari identitas diri dan dekorasi kamar.

3. Genre yang "Spicy" dan Fantasi

Buku apa yang laku keras? Bukan buku pelajaran sekolah pastinya. Genre "Romantasy" (Romance + Fantasy) dan Thriller lagi merajai pasar.

Novel-novel dengan bumbu percintaan yang spicy (agak dewasa) atau dunia sihir yang kompleks kayak A Court of Thorns and Roses (ACOTAR) series jadi primadona. Gen Z nyari pelarian (Escapism) dari dunia nyata yang sumpek ke dunia fiksi yang imajinatif.

4. Seni "Annotating" (Mencoret Buku)

Dulu, nyoret buku itu dosa. Sekarang? Itu seni. Gen Z hobi banget Annotating: Menandai kalimat-kalimat relate pakai stabilo, nempelin post-it, atau nulis komentar di pinggir halaman.

Ini bikin pengalaman membaca jadi interaktif. Pas lo buka lagi buku itu 5 tahun ke depan, lo bisa liat apa yang lo rasain pas baca kalimat itu dulu. Buku jadi kayak jurnal perjalanan emosi lo.

(Kesimpulan) Jadi, jangan remehkan literasi Gen Z. Kita baca, kok. Cuma caranya aja yang beda. Kita baca apa yang kita suka, bukan apa yang dipaksakan.

Masalahnya sekarang cuma satu: TBR (To Be Read) alias daftar tumpukan buku yang belum dibaca makin tinggi, tapi dompet makin tipis buat beli buku baru. Relate?

Buku apa yang terakhir bikin lo nangis atau bengong seharian? Racunin kita di kolom komentar dong!

Read More, Scroll Less!

0/Post a Comment/Comments