Hypewe.com – Pernah gak sih lo mikir kayak gini: "Harga rumah di pinggiran Jakarta aja udah 1 Miliar. Gaji gue 6 juta. Nabung seumur hidup pun gak bakal kebeli. Yaudah lah, mending beli tas branded atau liburan ke Jepang aja. Setidaknya gue happy sekarang."
Kalau pernah, toss dulu. Lo gak sendirian. Fenomena ini punya nama: Doom Spending (Belanja Kiamat).
Ini adalah perilaku belanja impulsif bukan karena kita kebanyakan duit, tapi karena kita Putus Asa sama kondisi ekonomi masa depan. Gen Z dan Milenial ngerasa masa depan itu suram (krisis iklim, perang, inflasi), jadi buat apa mikirin jangka panjang? Mending nikmatin hari ini. Tapi, bahaya gak sih pola pikir ini?
1. Nihilisme Ekonomi: Protes Lewat Belanja
Generasi orang tua kita (Boomer) punya mimpi "American Dream": Kerja keras -> Nabung -> Beli Rumah & Mobil. Buat Gen Z di 2026, mimpi itu udah mati.
Biaya hidup naik gila-gilaan, tapi gaji fresh graduate jalan di tempat. Doom Spending adalah bentuk protes bawah sadar kita. Kita nolak main sesuai aturan lama yang udah gak relevan. Kita beli sepatu mahal atau gadget terbaru sebagai Kompensasi atas ketidakmampuan kita membeli aset besar (properti). "Gue mungkin gak punya rumah, tapi seenggaknya outfit gue keren."
2. Ilusi "Self-Reward" yang Kebablasan
Awalnya niatnya Self-Reward (hadiah diri sendiri). Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Stres liat berita perang dunia? Checkout keranjang Shopee. Stres liat polusi Jakarta? Booking tiket pesawat.
Belanja jadi mekanisme koping (Coping Mechanism) buat ngelupain fakta kalau dunia lagi gak baik-baik aja. Masalahnya, sensasi senangnya cuma sebentar. Begitu barangnya nyampe, rasa cemas akan masa depan itu balik lagi. Plus nambah masalah baru: Tabungan Nol.
3. Lingkaran Setan "YOLO"
You Only Live Once (YOLO) itu bener. Tapi kalau YOLO dipakai buat membenarkan perilaku boros tanpa rem, lo bakal sengsara di hari tua.
Bahayanya Doom Spending adalah lo kehilangan Jaring Pengaman. Oke, mungkin lo gak bisa beli rumah tahun depan. Tapi gimana kalau lo tiba-tiba di-PHK? Atau sakit? Kalau duit lo abis buat tas branded, siapa yang bakal nyelamatin lo? Masa depan mungkin suram, tapi hidup tanpa dana darurat itu lebih horor, bestie.
4. Cara Keluar dari Mode "Kiamat"
Gimana cara stop Doom Spending tanpa jadi pelit sama diri sendiri?
Ubah Mindset: Nabung bukan cuma buat beli rumah. Nabung itu buat membeli Kebebasan. Kalau lo punya tabungan, lo bisa resign dari kerjaan toxic, lo bisa ambil gap year, lo bisa hidup tenang.
Micro-Habits: Fokus ke target kecil yang bisa dicapai. Misal: Nabung 5 juta buat beli laptop baru. Pas tercapai, lo bakal ngerasa punya kendali lagi atas hidup lo.
Investasi Leher ke Atas: Daripada beli barang yang nilainya turun, beli skill baru. Skill gak bakal kena inflasi.
(Kesimpulan) Marah sama keadaan ekonomi itu wajar. Sedih liat harga rumah itu valid. Tapi jangan biarkan keputusasaan itu bikin lo menyabotase masa depan lo sendiri.
Dunia mungkin lagi kacau, tapi keuangan lo gak harus ikutan kacau. Nikmati kopi mahal lo hari ini, tapi sisain dikit buat "Lo di masa depan" yang mungkin butuh biaya berobat atau modal nikah.
Lo tim 'Habisin Aja' atau tim 'Nabung Dikit-dikit'? Curhat keresahan finansial lo di bawah!
Don't Let the Doom Consume You!

Posting Komentar