Hypewe.com – Coba cek Instagram Story para wakil rakyat atau pejabat publik hari ini (23 Desember). Kemungkinan besar lo bakal liat pemandangan salju di Swiss, belanja di Ginza Jepang, atau dinner mewah di Paris. Gak ada yang salah dengan liburan. Semua orang butuh healing, termasuk pejabat.
Tapi, pemandangan itu jadi ironis dan menyakitkan ("Tone Deaf") ketika disandingkan dengan realita rakyat di akhir 2025. Di sini, kita lagi berjibaku sama Banjir Desember, harga bahan pokok yang meroket jelang Tahun Baru, dan kemacetan horor karena transportasi umum yang belum maksimal. Kenapa "Sense of Crisis" para elit kita seringkali mati suri di momen-momen krusial?
1. "Pake Uang Pribadi Kok, Masalahnya Apa?"
Ini argumen standar para pendengung (buzzer) atau pejabatnya sendiri. "Saya liburan pake uang gaji saya sendiri, bukan uang negara!" Secara hukum? Benar. Secara etika politik? Bermasalah Besar. Pejabat publik itu digaji untuk "Hadir" dan "Merasakan" denyut nadi rakyatnya. Ketika rakyat lagi panik nyerok air banjir masuk rumah, pemimpinnya malah posting foto main ski pake jaket seharga motor. Itu nunjukin kalau mereka gak punya Sensitivitas Sosial. Mereka gagal membaca suasana kebatinan rakyat yang lagi struggle.
2. Devisa yang Kabur ke Luar Negeri
Pemerintah sering teriak: "Cintai Produk Dalam Negeri! Liburan #DiIndonesiaAja!" Kampanye pariwisata lokal digenjot habis-habisan buat nyelamatin ekonomi. Tapi liat kelakuan pembuat kebijakannya. Giliran liburan, mereka berbondong-bondong bawa devisa ke luar negeri. Ini namanya Hipokrisi Kebijakan. Gimana rakyat mau percaya sama ajakan "Wisata Lokal" kalau pejabatnya sendiri lebih milih buang duit di Orchard Road daripada di Bali atau Labuan Bajo? Keteladanan itu nol besar.
3. Bencana Alam Gak Kenal Tanggal Merah
Indonesia itu supermarket bencana, apalagi di bulan Desember (Musim Hujan). Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem sering terjadi di akhir tahun. Bayangin skenarionya: Ada bencana banjir bandang di daerah pemilihannya (Dapil), tapi Si Bapak/Ibu Dewan lagi asik shopping di Milan dan susah dihubungi karena "Lagi Cuti". Penanganan bencana jadi lambat karena pengambil keputusannya gak ada di tempat. Rakyat dibiarikan auto-pilot menyelamatkan diri sendiri.
4. Apa yang Gen Z Harapkan?
Kita gak minta pejabat kerja 24 jam tanpa istirahat kayak robot. Kita cuma minta Empati Digital. Kalau emang mau liburan mewah, silakan. Tapi mbok ya Tahan Jempol-nya. Gak usah di-posting dan di-flexing di media sosial saat konstituen lo lagi susah makan. Flexing kekayaan dan kebahagiaan di tengah penderitaan orang lain itu norak, Pak/Bu. Jadilah pemimpin yang "Low Profile", bukan "Low Empathy".
(Kesimpulan) Tahun 2026 nanti, tantangan ekonomi dan iklim bakal makin berat. Kita butuh pemimpin yang bersedia basah-basahan bareng rakyat, bukan yang cuma monitoring lewat layar HP dari hotel bintang lima di luar negeri.
Semoga di sisa liburan akhir tahun ini, para pejabat kita dapet "oleh-oleh" berupa kesadaran hati nurani.
Menurut lo, pejabat boleh gak sih pamer liburan mewah di medsos? Atau harusnya mereka 'puasa posting' demi jaga perasaan rakyat? Debat sopan di kolom komentar!
Lead by Example, Not by Flexing.

Posting Komentar