Hypewe.com - Kalau lo time travel ke tahun 2010 dan bilang ke anak muda zaman itu, "Eh, nanti tahun 2025 band ST12 sama Kangen Band bakal jadi headliner festival musik paling hits di Jakarta," lo pasti bakal diketawain.
Tapi lihat sekarang. Realitanya, playlist Spotify Gen Z dan Alpha hari ini isinya bukan cuma lagu K-Pop atau Western Top 40, tapi nyelip lagu-lagu "Melayu Chords" yang liriknya nylekit di hati.
Fenomena apa sih ini? Kenapa musik yang dulu sering dapet label "Alay" atau "Norak" sekarang malah dianggap "Skena" dan aesthetic? Yuk, kita bedah tren yang lagi FYP banget ini!
1. "Guilty Pleasure" yang Jadi "Public Treasure"
Awalnya mungkin cuma buat lucu-lucuan atau meme. Gen Z nemuin lagu-lagu lawas era 2000-an di TikTok, terus dipakai buat backsound konten galau ironis.
Tapi lama-lama, kita sadar: "Eh, kok lagunya enak ya? Kok liriknya relate banget sama nasib percintaan gue?" Akhirnya, dari yang awalnya dengerin sembunyi-sembunyi (Guilty Pleasure), sekarang kita bangga nyanyiin lirik "Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi" sekencang-kencangnya di tempat umum. Pop Melayu is the new Emo!
2. Karaoke Night: Obat Stres Paling Ampuh
Coba cek Bar atau Club hits di Jaksel, Bandung, atau Surabaya weekend ini. Pasti ada satu sesi khusus yang muterin lagu-lagu Indo 2000-an.
Energi pas nyanyi lagu 'Yank' atau 'Cari Jodoh' bareng ratusan orang itu beda level, bestie. Ada rasa kebersamaan yang magis. Gak peduli lo anak korporat, anak agensi, atau mahasiswa semester akhir, pas intro gitar melayu bunyi, kita semua saudara sependeritaan. Ini adalah bentuk healing massal yang murah meriah.
3. Validasi Emosi yang Jujur (No Filter)
Musik Gen Z zaman sekarang seringkali liriknya poetic, metaforanya berat, atau terlalu cool. Nah, Pop Melayu itu antitesisnya.
Liriknya jujur, to the point, dan gak jaim. Kalau sakit hati ya bilang sakit, kalau selingkuh ya bilang selingkuh. Kejujuran yang "raw" inilah yang dirindukan Gen Z di tengah dunia medsos yang penuh pencitraan. Kesederhanaan liriknya justru ngena banget di mental fragile kita.
4. Fashion Y2K Lokal Ikut Naik Daun
Gak cuma musiknya, gaya berpakaiannya pun mulai di-recycle. Tren "Indo Core" atau "Starling Aesthetic" mulai muncul. Anak muda mulai pede pakai kaos band lokal, celana baggy, atau aksesoris yang nabrak-nabrak ala video klip jadul.
Ini adalah bentuk perlawanan terhadap tren fashion yang itu-itu aja. Menjadi "Lokal" sekarang adalah definisi baru dari menjadi "Keren".
(Kesimpulan) Jadi, buat lo yang masih gengsi dengerin Pop Melayu, please deh, lo ketinggalan zaman. Menerima musik masa lalu adalah tanda kalau kita udah damai sama diri sendiri. Gak ada lagi istilah selera musik "kampungan" atau "gedongan". Selama musiknya bikin lo goyang dan happy, sikat terus!
Siapin suara lo, karena weekend ini kita bakal teriak-teriak lagi di tempat karaoke. Lagu Pop Melayu apa yang jadi andalan lo kalau lagi galau? Spill di komen, siapa tau kita satu frekuensi!
Salam Oouwo-oo-oo!

Posting Komentar