Ke Lokasi Banjir Pake Rompi Anti-Peluru? Tren 'Wisata Bencana' Pejabat yang Lebih Sibuk Cosplay Pahlawan Daripada Nolong Warga

Hypewe.com – Indonesia sedang berduka. Banjir bandang menerjang, tanah longsor menimbun rumah, gempa merobohkan sekolah. Rakyat butuh tenda, selimut, dan air bersih. Tapi apa yang mereka dapatkan? Kunjungan pejabat yang turun dari mobil mewah, dikawal sirine nguik-nguik, lengkap dengan Kostum Perang.

Iya, kostum perang. Pake helm taktikal, rompi anti-peluru tebal, dan kacamata hitam. Padahal musuhnya adalah air bah dan lumpur, bukan teroris bersenjata. Ditambah lagi adegan klasik: Foto kandidat menggendong karung beras (yang kelihatannya ringan banget) sambil pasang muka sedih di depan kamera. Ini bukan empati, ini Eksploitasi Penderitaan (Poverty Porn) demi konten medsos. Yuk kita roasting kelakuan absurd ini.

1. Logika Rompi Anti-Peluru di Lokasi Banjir

Mari kita pakai logika Gen Z. Pak/Bu Pejabat, Anda datang ke lokasi banjir atau longsor. Ancaman terbesarnya adalah: Kepleset lumpur, kena penyakit kulit, atau digigit nyamuk DBD. Kenapa Anda pakai Rompi Anti-Peluru dan helm tempur? Apakah air banjirnya bawa pistol Glock 17? Apakah lumpurnya punya sniper?

Penampilan militeristik ini justru menciptakan Jarak (Gap) yang besar. Warga di sana pake baju basah kuyup kedinginan, Anda datang kayak Robocop yang gak tersentuh. Itu bukan wibawa, itu Intimidasi. Anda kelihatan takut kotor, bukan siap nolong.

2. The Art of "Gendong Beras" (Durasi: 10 Detik)

Skenario wajib setiap kunjungan:

  1. Truk bantuan datang (biasanya ditempel stiker wajah pejabat lebih gede dari tulisan "Beras").

  2. Ajudan nyiapin satu karung beras 5kg.

  3. Pejabat ngangkat karung itu (dengan posisi kuda-kuda dramatis seolah berat banget).

  4. "Tahan Pak, senyum dikit, liat kamera... Cekrek!"

  5. Selesai foto, karung dikasih lagi ke ajudan. Pejabatnya melipir ngadem di tenda VIP.

Rakyat yang ngeliat cuma bisa mbatin: "Pak, kalau mau jadi kuli panggul daftarnya di pasar induk, bukan di sini." Kita butuh kebijakan distribusi logistik yang cepat, bukan foto bapak lagi olahraga beban.

3. Iring-iringan yang Bikin Macet Bantuan

Ini dosa terbesar "Wisata Bencana". Rombongan pejabat itu panjangnya bisa 10 mobil. Ada Patwal, mobil dinas, mobil ajudan, mobil tim medsos, sampai mobil ambulans (yang isinya kosong cuma buat gaya).

Akibatnya? Jalanan sempit menuju desa terdampak jadi Macet Total. Truk relawan yang beneran bawa logistik tertahan berjam-jam karena harus ngalah sama rombongan VVIP yang mau lewat. Niatnya mau nengok korban, malah nambah penderitaan korban karena bantuan jadi telat nyampe. Make it make sense!

4. Gen Z: "Kami Muak, Kirim Transferan Aja!"

Di era transparansi digital, taktik usang ini udah gak mempan. Netizen sekarang punya mata elang. "Kok sepatunya masih kinclong padahal katanya jalan di lumpur?" "Itu karung berasnya kok kempot, isinya gabus ya?"

Pesan buat para pejabat: Kalau gak bisa bantu nyangkul lumpur atau masak di dapur umum, mending Transfer Anggaran aja. Tanda tangan SK Tanggap Darurat, cairkan dana BTT (Belanja Tidak Terduga), pastikan birokrasinya gak ribet. Itu bantuan paling nyata. Sisanya, biarkan Tim SAR dan Relawan yang kerja. Anda gak usah dateng cuma buat nambah beban konsumsi di posko.

(Kesimpulan) Bencana alam adalah tragedi kemanusiaan, bukan panggung kampanye gratis. Berhenti menjadikan air mata rakyat sebagai background foto profil Instagram Anda.

Kalau Anda datang masih mikirin angle kamera dan takut baju dinas kotor, mending pulang. Rakyat butuh pelayan, bukan aktor watak.

Pernah liat langsung pejabat yang 'riweuh' sendiri pas dateng ke tempat bencana di daerah lo? Atau liat baliho ucapan duka cita tapi fotonya full face pejabatnya sambil senyum? Spill di kolom komentar!

Stop Disaster Tourism. Start Working.

0/Post a Comment/Comments