Hypewe.com – "Menyala Abangku!" "Tetap ilmu padi ya, Adik-adik."
Pernah gak sih lo cringe liat baliho atau konten TikTok pejabat/politisi yang maksa banget pake bahasa gaul Gen Z? Tiba-tiba bapak-bapak usia 50-an mendadak jadi frequent user CapCut, bikin video jedag-jedug, atau Live TikTok sambil sok asik ngobrolin tren Skibidi (yang sebenernya mereka gak paham artinya).
Ini adalah fenomena "Politisi Cosplay Gen Z". Menjelang tahun politik atau Pilkada, mereka berlomba-lomba merebut hati kita—pemilih mayoritas—dengan cara memimik gaya kita. Tapi pertanyaannya: Apakah mereka beneran peduli sama nasib kita, atau cuma peduli sama suara kita? Mari kita bedah gimmick ini dengan logika sehat!
1. Joget Gemoy vs. Lapangan Kerja
Oke, liat pejabat joget di TikTok emang menghibur. Lucu. Viral. Tapi, apakah joget itu bisa nurunin angka pengangguran anak muda yang makin tinggi? Apakah live TikTok mereka bisa bikin harga rumah jadi terjangkau buat gaji UMR?
Gen Z itu krisisnya nyata: Susah cari kerja, mental health berantakan, dan krisis iklim. Kalau politisinya cuma sibuk branding "lucu-lucuan" tapi gak punya program konkret buat nyelesain masalah di atas, sorry to say, itu namanya Performative Politics. Kita gak butuh badut, kita butuh pemimpin.
2. "Relatable" di Medsos, "Feodal" di Realita
Di medsos balesin komen pake emoji "🔥", kesannya humble dan setara. Tapi coba cek pas mereka bikin undang-undang atau kebijakan. Apakah mereka dengerin suara anak muda pas kita demo soal UU yang merugikan rakyat? Atau malah kita dibungkam dan dibilang "penunggang gelap"?
Jangan ketipu sama persona digital. Sikap asli politisi itu kelihatan bukan dari seberapa asik dia di Instagram, tapi dari seberapa transparan dia mengelola anggaran dan seberapa berani dia ngelawan korupsi. Kalau di IG "Bestie", tapi di kantor "Anti-Kritik", itu red flag terbesar, guys.
3. Politik "FOMO" yang Maksa
Sadar gak sih, pejabat kita sering banget FOMO? Ada atlet menang, langsung pasang muka gede di poster ucapan selamat. Ada tren Cek Khodam, ikutan cek khodam. Ada konser K-Pop, tiba-tiba ngaku fans BTS.
Ini strategi marketing basi. Mereka mikir Gen Z itu dangkal dan gampang dibeli pake konten receh. Padahal, Gen Z itu generasi paling kritis. Kita tau cara fact-checking. Kita tau cara ngulik jejak digital masa lalu. Jadi, berhenti menganggap kita anak kecil yang bisa disogok permen (baca: konten viral).
4. Cara Gen Z Melawan: "Look at The Track Record"
Terus kita harus gimana? Golput? Jangan dong. Cara ngelawan gimmick adalah dengan Literasi.
Pas liat konten politisi yang "Sok Gen Z", jangan langsung ke-distract sama lucunya. Cek rekam jejaknya:
Pernah korupsi gak?
Pernah bikin kebijakan yang ngerusak lingkungan gak?
Visi-misinya soal pendidikan dan internet gratis masuk akal gak?
Kalau isinya cuma kosmetik pencitraan, swipe left. Kita butuh substansi, bukan sensasi.
(Kesimpulan) Pak/Bu Pejabat yang terhormat, kalau mau ambil hati Gen Z, gak perlu pake jaket denim sobek-sobek atau ngomong bahasa Jaksel yang cringe.
Cukup dengerin keresahan kami. Sediain lapangan kerja yang layak, jangan persulit kebebasan berpendapat, dan jaga bumi tempat kami tinggal. Itu jauh lebih "Menyala" daripada sekadar konten jedag-jedug.
Menurut lo, siapa pejabat yang paling maksa banget jadi Gen Z? Atau ada yang beneran asik? Diskusi santai (no debat kusir) di kolom komentar!
We See Through Your Gimmick.

Posting Komentar