Viral 'Recap 2025' Bikin Mental Breakdown? Stop Bandingin 'Behind The Scene' Lo sama 'Highlight' Mereka!

Hypewe.com – Tanggal 29 Desember. Waktu kritis. Lo buka Instagram, isinya Reels dengan template "My 2025 Season" pake lagu uptempo. Temen SD lo baru beli rumah. Temen kuliah lo lagi winter trip di Jepang. Kolega kerja lo pamer surat promosi. Lo? Lo lagi rebahan di kosan, makan mie instan, saldo rekening pas-pasan, dan karir lo stuck di situ-situ aja. Tiba-tiba dada sesak. "Gila, setahun ini gue ngapain aja? Kok orang lain lari kenceng banget, gue jalan di tempat?"

Tahan dulu air matanya, Bestie. Lo gak sendirian. Jutaan Gen Z hari ini lagi ngalamin Year-End Blues atau depresi akhir tahun. Ditambah lagi ada akun finansial viral di X yang ngetweet: "Siap menyambut 2026? Kalau umur 25 tabungan belum 100 juta, evaluasi diri ya!" Rasanya pengen lempar HP, kan? Mari kita bedah kenapa fenomena pamer akhir tahun ini adalah Ilusi Digital yang harus lo waspadai.

1. Teori "Highlight Reel" vs "Behind The Scene"

Satu hal yang otak lo sering lupa saat scrolling: Medsos adalah Panggung Sandiwara. Video recap 30 detik teman lo itu adalah Highlight Reel (Potongan adegan terbaik). Dia gak masukin momen dia nangis di kamar mandi kantor. Dia gak masukin momen dia ditolak gebetan. Dia gak masukin momen dia makan promag karena asam lambung naik demi ngelembur. Lo membandingkan Kenyataan Pahit (Behind The Scene) hidup lo yang lo rasain 24 jam, dengan Potongan Manis hidup orang lain yang cuma 1%. Itu perbandingan yang gak adil. It's apples to oranges.

2. Gaslighting Finansial: "100 Juta di Umur 25"

Postingan viral soal standar tabungan itu seringkali Buta Privilese. Banyak dari mereka yang pamer tabungan ratusan juta di usia muda itu punya "Bantuan Pusat" (baca: Orang Tua Kaya), gak nanggung utang keluarga, atau gak jadi Sandwich Generation. Kalau lo tahun ini berhasil bertahan hidup, gak nambah utang Pinjol, dan masih bisa makan enak sesekali sambil nanggung biaya adik/ortu, LO ITU KEREN. Bertahan hidup di ekonomi 2025 yang serba mahal ini adalah prestasi tersendiri. Jangan biarkan tweet orang asing bikin lo ngerasa miskin.

3. Survivorship Bias: Yang Gagal Gak Posting

Lo ngerasa "Semua orang sukses" karena cuma orang sukses yang posting. Teman lo yang baru di-PHK gak bakal bikin recap. Teman lo yang batal nikah gak bakal bikin story. Algoritma medsos juga jahat. Dia cuma nyodorin konten yang engagement-nya tinggi (biasanya konten pamer). Jadi, realitas yang lo liat di layar itu Bias. Mayoritas orang sebenernya sama kayak lo: Berjuang, capek, dan berharap tahun depan lebih baik.

4. Cara Selamatkan Mental di H-2 Tahun Baru

Daripada doomscrolling sampe gila, lakuin ini:

  • Mute/Unfollow Sementara: Kalau liat story si A bikin lo sakit hati, Mute aja dulu. Lindungi kedamaian lo. Itu bukan jahat, itu Self-Preservation.

  • Bikin "Gratitude List" Receh: Tulis 3 hal kecil yang lo syukuri di 2025. Gak usah muluk-muluk kayak "Beli Mobil". Cukup: "Masih punya temen mabar", "Nemu seblak enak deket kantor", "Kucing gue sehat". Validasi kebahagiaan kecil lo.

  • Ganti Resolusi: Jangan bikin resolusi "Harus Kaya Raya di 2026". Ganti jadi "Harus Lebih Tenang dan Waras di 2026".

(Kesimpulan) Tahun 2025 mungkin bukan tahun terbaik lo. And that's okay. Hidup itu bukan lari sprint, tapi lari maraton. Ada kalanya lo lari kencang, ada kalanya lo jalan kaki, ada kalanya lo minggir bentar buat iket tali sepatu.

Jangan tutup tahun ini dengan rasa benci sama diri sendiri. Tepuk bahu lo sendiri, bilang: "Makasih ya udah kuat sampe hari ini." Itu pencapaian terbesar yang gak butuh validasi likes Instagram.

Siapa nih yang udah muak liat konten "Recap 2025"? Atau lo justru termotivasi? Tim Insecure atau Tim Bodo Amat? Absen di kolom komentar!

0/Post a Comment/Comments