Hypewe.com – "Ibu pengen pensiun tenang, kamu yang biayain ya." Kalimat ini terdengar mulia, tapi bagi jutaan Gen Z di tahun 2025, ini adalah vonis kemiskinan struktural. Selamat datang di klub Sandwich Generation: Terjepit membiayai orang tua (lapisan atas) dan diri sendiri/anak (lapisan bawah).
Di media sosial, kita sering disuruh "ikhlas" dan "berbakti". Tapi mari kita bicara politik. Fenomena Sandwich Generation yang masif di Indonesia ini sebenarnya bukan cuma soal moral anak, tapi indikator Absennya Negara dalam menjamin kesejahteraan lansia. Kenapa beban ini harus 100% jatuh ke pundak anak muda yang gajinya saja pas-pasan?
1. Mitos "Bonus Demografi" vs "Bencana Demografi"
Pemerintah selalu teriak soal Indonesia Emas 2045 dan keuntungan Bonus Demografi (banyaknya penduduk usia produktif). Tapi, apalah arti usia produktif kalau penghasilan mereka habis buat nambal biaya hidup orang tua yang tidak punya dana pensiun? Anak muda gak bisa nabung, gak bisa investasi, dan gak bisa beli properti. Alih-alih jadi mesin ekonomi, Gen Z malah jadi "Suster Lansia" karena negara tidak menyediakan Nursing Home atau tunjangan lansia yang layak. Ini bukan Bonus, ini potensi Bencana Demografi.
2. Dana Pensiun: Kemana Perginya?
Fakta pahitnya: Mayoritas orang tua kita (terutama yang Non-PNS/BUMN) tidak punya Dana Pensiun. Sistem Jaminan Hari Tua (JHT) atau Jaminan Pensiun (JP) BPJS Ketenagakerjaan nilainya seringkali terlalu kecil untuk hidup layak di tahun 2026 yang serba mahal. Di negara maju, lansia diurus negara lewat pajak yang mereka bayar saat muda. Di sini? Lansia diurus anak. Negara seolah lepas tangan begitu warga negaranya tidak lagi produktif. Slogan "Banyak Anak, Banyak Rezeki" berubah jadi "Banyak Anak, Banyak yang Nanggung Hidup".
3. BPJS Kesehatan Membantu, Tapi Tidak Cukup
Oke, BPJS Kesehatan menanggung biaya berobat. Itu sangat membantu. Tapi lansia butuh lebih dari sekadar obat gratis. Mereka butuh makan bergizi, popok, pendamping (caregiver), dan biaya sosial. Semua itu Tidak Ditanggung Negara. Gen Z harus menyisihkan 30-50% gaji UMR mereka buat ini. Akibatnya? Mereka menunda nikah (Childfree) atau menunda punya rumah. Lingkaran setan kemiskinan pun berulang.
4. Tuntutan Politik Gen Z
Berhenti mem-politisasi kemiskinan dengan bansos musiman. Gen Z butuh kebijakan jangka panjang:
Reformasi Dana Pensiun: Pastikan pekerja informal (petani, nelayan, ojol) punya skema pensiun yang jelas.
Fasilitas Lansia Publik: Perbanyak panti wreda (retirement home) yang berkualitas dan disubsidi negara, bukan cuma panti swasta mahal.
Edukasi Finansial: Masukkan kurikulum perencanaan pensiun di sekolah, biar Gen Z gak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya.
(Kesimpulan) Mencintai orang tua adalah kewajiban. Tapi membiayai hidup mereka sepenuhnya karena sistem negara yang bolong-bolong adalah ketidakadilan. Kita tidak durhaka karena menuntut negara hadir. Kita justru ingin memutus rantai Sandwich Generation ini, supaya anak-anak kita nanti bebas merdeka, bukan jadi "Dana Pensiun Berjalan" buat kita.
Lo termasuk Generasi Sandwich yang gajinya abis buat transfer ortu? Merasa negara harusnya ambil peran lebih? Suarakan keresahan lo di kolom komentar!
Love Parents, Demand Justice.

Posting Komentar