Viral 'Flying Choco': Janji Manis Bikin 'Terbang' Berujung Penjara?


Hypewe.com - Pernah nggak sih lo lagi asik scroll TikTok atau Instagram, terus nemu konten orang yang lagi review jajanan aneh? Bukan seblak atau cromboloni, tapi sebuah camilan berbentuk cokelat atau keripik jamur yang punya tagline provokatif: "Bikin Terbang Tanpa Melanggar Hukum."

Produk ini dikenal dengan sebutan "Flying Choco" atau varian mushroom snack lainnya. Banyak netizen (terutama anak muda yang penasaran) yang tergoda buat beli karena embel-embel "Legal" dan "Bukan Narkoba".

Tapi, benarkah ada cara buat "mabuk" yang aman dan nggak bakal diciduk polisi? Atau ini cuma marketing gimmick yang menjebak lo ke dalam sel penjara? Tim HypeWe membedah kasus ini secara lengkap, mulai dari klaim viral, fakta medis, hingga ancaman hukum dari BNN.

1. Apa Itu 'Flying Choco'?

Di pasaran gelap online atau grup-grup Telegram tertutup, produk ini dijual dengan kemasan yang catchy dan berwarna-warni. Sekilas, nggak ada bedanya sama cokelat batangan biasa atau keripik jamur krispi.

Penjualnya menggunakan narasi marketing yang licik:

  • "Efeknya bikin rileks dan happy."

  • "Aman, tidak terdeteksi tes urine standar."

  • "Legal, belum ada undang-undangnya."

Target pasarnya jelas: Gen Z yang FOMO (Fear of Missing Out) dan pengen ngerasain sensasi high tapi takut sama risiko hukum narkoba konvensional (seperti ganja atau sabu).

2. Tamparan Keras BNN: "Jangan Harap Bisa Lolos!"

Merespons tren berbahaya ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) akhirnya buka suara. Biro Humas dan Protokol BNN, Sulistyo Pudjo Hartono, memberikan peringatan keras.

Poin utamanya adalah: Jangan terkecoh dengan kemasan. Meskipun bentuknya cokelat atau keripik, jika di dalamnya terkandung senyawa Psilocybin (zat aktif dalam Magic Mushroom), maka itu adalah Narkotika Golongan I.

Apa konsekuensinya? Berdasarkan UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, penyalahgunaan Narkotika Golongan I (seperti Ganja, Sabu, dan Psilocybin) ancaman hukumannya sangat berat:

  • Penjara: Minimal 4 tahun, maksimal seumur hidup atau hukuman mati (untuk pengedar).

  • Denda: Miliaran rupiah.

Jadi, klaim "Tanpa Melanggar Hukum" itu adalah HOAKS BESAR. Begitu hasil lab membuktikan ada kandungan Psilocybin, lo otomatis jadi kriminal.

3. Jebakan NPS (New Psychoactive Substances)

Nah, ini bagian yang harus lo pahami biar pinteran dikit. Gimana kalau ternyata zatnya bukan Psilocybin, tapi zat kimia baru racikan lab?

Itu namanya NPS (New Psychoactive Substances). Para bandar narkoba itu pinter, Sob. Mereka memodifikasi struktur kimia narkoba biar nggak masuk daftar list barang terlarang untuk sementara waktu.

TAPI, BNN menegaskan bahwa zat psikoaktif apa pun yang memberikan efek halusinasi dan perubahan perilaku tetap bisa diproses hukum melalui Permenkes yang terus diperbarui. Selain itu, risiko kesehatan NPS jauh lebih mengerikan karena "belum teruji". Lo pada dasarnya jadi kelinci percobaan bahan kimia misterius.

4. Ekspektasi vs Realita: Bukannya 'Terbang', Malah 'Tumbang'

Apa sih yang dicari orang dari Flying Choco? Sensasi halusinasi, warna-warni jadi cerah, dan rasa euforia. Tapi realitanya seringkali jauh dari ekspektasi. Efek samping konsumsi olahan jamur tahi sapi (Psilocybe cubensis) atau zat sintetiknya meliputi:

  • Bad Trip: Bukannya happy, lo malah ketakutan setengah mati, paranoid, merasa dikejar monster, atau merasa mau mati. Ini trauma psikologis yang bisa bertahan lama.

  • Mual Muntah Hebat: Tubuh lo mendeteksi zat itu sebagai racun, jadi reaksinya adalah muntah-muntah. Nggak keren kan, mau nge-fly malah jackpot di depan temen?

  • Kerusakan Saraf Permanen: Penggunaan jangka panjang bisa bikin otak lo lemot, gangguan memori, sampai skizofrenia (gila).

5. Kenapa Gen Z Gampang Kena Tipu?

Fenomena Flying Choco ini mengeksploitasi celah psikologis anak muda:

  1. Normalisasi: Karena bentuknya cokelat/keripik, rasanya kayak jajan biasa. Rasa bersalahnya kurang dibanding kalau harus nyuntik atau ngisap asap.

  2. Validasi Medsos: Konten review yang bilang "seru banget" bikin orang lain penasaran. Padahal bisa jadi reviewer-nya dibayar atau cuma akting.

Kesimpulan HypeWe

Smart people don't need drugs to be cool or happy. Kalau lo butuh dopamin atau pengen happy, makan cokelat asli (yang banyak gulanya) atau olahraga.

Jangan pertaruhkan masa depan lo cuma demi jajanan viral seharga ratusan ribu. Sekali lo keciduk BNN gara-gara makan cokelat ginian, SKCK lo merah seumur hidup. Nggak bisa kerja, nggak bisa lanjut kuliah. Apakah worth it? Jelas enggak.

Stop sebarin infonya, stop beli produknya. Stay clean, stay safe.

0/Post a Comment/Comments