Viral Lagi! Arogansi Fortuner 'Plat Dewa': Raja Jalanan Berulah


Hypewe.com - Belum kering ingatan kita sama kasus arogansi di jalan tol bulan lalu, eh sekarang muncul lagi episode baru dari serial "The Lord of The Road".

Jagat media sosial (X dan Instagram) lagi rame banget ngebahas video Dashcam yang memperlihatkan sebuah SUV Fortuner hitam (lengkap dengan lampu strobo silau dan pelat nomor khusus "ZZ" atau "RF" seri baru) yang ugal-ugalan di jalur kanan.

Kronologinya klasik: Si "Abang Jago" ini maksa minta jalan di kondisi macet sambil nyalain sirine (padahal bukan ambulans/damkar). Karena mobil di depannya nggak bisa minggir (ya mau minggir ke mana, terbang?), si pengemudi Fortuner ini emosi. Dia nyalip dari bahu jalan, motong, ngerem mendadak (brake check), turun bawa alat (kali ini tongkat besi), dan... PRANG! Spion mobil korban dipukul sampai patah.

Kenapa Selalu Pajero atau Fortuner?

Ini pertanyaan jutaan umat. Kenapa jarang banget kita liat pengemudi Avanza atau Honda Jazz searogan ini? Psikolog Lalu Lintas menyebutnya fenomena "Big Car Syndrome".

  1. Ilusi Kekuasaan: Posisi duduk yang tinggi dan body mobil yang besar bikin pengemudinya merasa "Superior" dan "Tak Terkalahkan" dibanding mobil kecil (City Car/LCGC).

  2. Identitas Semu: Banyak yang beli mobil ini cuma buat dapet validasi "Orang Kaya/Pejabat". Ditambah aksesoris pelat dinas (yang seringkali PALSU beli di marketplace), ego mereka langsung meroket tembus langit.

Netizen: Detektif Jalur Langit Beraksi

Hebatnya netizen Indonesia, nggak butuh waktu 24 jam buat nge-doxxing identitas pelaku. Hasil penelusuran "Intel Jalur Langit" menemukan fakta kocak yang sering terjadi:

  • Pelat Palsu: Ternyata nomor pelat "Dewa" yang dipake itu nggak terdaftar di Samsat, atau aslinya punya mobil jenis lain.

  • Nunggak Pajak: Pas dicek di aplikasi pajak kendaraan, mobil gagah itu ternyata pajaknya mati 2 tahun. Ups.

  • Warga Sipil Biasa: Pas ditangkep polisi, yang tadinya garang bawa tongkat besi, langsung kicep, nunduk, dan minta maaf sambil bilang "Saya khilaf". Ternyata bukan Jenderal, cuma warga sipil yang pengen kelihatan sangar.

Sanksi Sosial Lebih Kejam dari Tilang

Mungkin hukum lalu lintas kita masih bisa "diatur" (damai di tempat?), tapi Sanksi Sosial netizen itu abadi, Sob. Muka pelaku udah tersebar, tempat kerjanya diserbu bintang 1 di Google Maps, dan keluarganya nanggung malu.

Kesimpulan

Punya mobil gede itu hak semua orang. Tapi jalan raya itu milik bersama. Nggak peduli mobil lo harganya setengah miliar atau pelat lo kodenya aneh-aneh, kalau lampu merah ya berhenti. Kalau macet ya antre.

Buat para "Raja Jalanan", tolonglah... strobo lo itu norak, bukan keren. Dan buat kita yang waras: Pasang Dashcam! Itu investasi terbaik buat ngelawan orang-orang gila di jalanan.

Big car doesn't mean big brain. Drive safe!

0/Post a Comment/Comments